Tut… tut…

Tut… tut… siapa hendak turut? Sudah lama sebenarnya ingin mencoba moda transportasi kereta. Akhirnya baru kesampaian setelah berkesempatan belajar di negeri orang. Kereta yang pertama kali saya naiki adalah sejenis subway atau kereta listrik. Waktu itu saya diajak teman-teman sekampus untuk jalan-jalan menikmati hiruk-pikuk kota Seoul di malam hari. Kami naik bareng dari stasiun terdekat,… Continue reading Tut… tut…

Petruk dadi ratu

petruk dadi ratu x2 nyangga pincuk udut crutu ratu suralaya patihe narada yen lungguh x2 sikil jigang munggah meja cengengas cengenges tambur kon nabuh dewa dek dek dek dek jreng…. x2 (intermezo…) petruk dadi ratu x2 nyangga pincuk udut crutu dewa dewa bingung petruk ngaji mumpung dipolne dipolne nggone dadi jawato gung mbendino mung mangan… Continue reading Petruk dadi ratu

Titik cahaya

Sabtu siang selepas sholat dzuhur saya mengantar istri ke rumah sakit untuk pertama kalinya memeriksakan kandungannya. Kami pun berjalan menuju halte taxi menyusuri jalan berpagar gedung. Perjalanan menuju rumah sakit sekitar 30 menit. Bermodal nekat tanpa reservasi lebih dulu, kamipun langsung daftar ke resepsionis sesampainya disana. Rumah sakitnya tidak terlalu besar. Jangan banyangkan bangunan yang… Continue reading Titik cahaya

Segulung Kimbap (3)

Ingin rasanya segera enyah dari kejenuhan ini. Namun, sebelum mereka para atasan itu beranjak tak patut bagiku melangkah lebih dulu. Kulihat jam sudah hampir menuju pukul 7 malam. Tapi kenapa tak juga nampak lelah di raut wajah mereka. Hidup adalah berkerja. Bekerja dan hiduplah engkau. Seakan tak punya hidup selain bekerja. Ditengah lamunku, tiba-tiba pundakku ditepuk… Continue reading Segulung Kimbap (3)

Segulung Kimbap (2)

Kunikmati potongan nasi gulung di mejaku. Masih sepi. Sehingga aku bisa menikmati sarapanku dengan leluasa. Entah kenapa rasanya begitu lezat kali ini. Atau cuma perasaanku saja? Mungkin juga karena rasa lapar yang melilit ini. Aku hanyalah pegawai rendahan disini. Lebih tepatnya jongos, tapi tanpa serbet tersampir di pundak. Darimana pula kudapati istilah-istilah itu. Hmm.. aku… Continue reading Segulung Kimbap (2)

Segulung Kimbap (1)

Alarm berdering keras memekikkan gendang telingaku. Di luar masih gelap. Matahari masih belum merangkak meskipun sudah jam 6. Sialan, handuk masih dijemur di luar. Harus buru-buru kuambil agar tidak mengantri lama. Kusahut juga perkakas mandi. “Ahh..” kubanting tempat sabun yang habis. Gerutu memang nampak di keseharianku. Sudah hampir tiga bulan ini aku paksa diri ini… Continue reading Segulung Kimbap (1)