Namanya juga nunut

nunut

“Nunut” alias numpang. Ya mungkin cuma itu ungkapan yang tepat untuk menggambarkan kejadian hari ini. Orang yang sedang nunut/numpang tidak punya kuasa sedikit pun atas fasilitas yang ditumpanginya. Mirip seperti ilustrasi gambar di atas, kedua orang itu pastinya tidak bisa meminta kepada masinis untuk diberikan tempat duduk di kelas ekonomis sekalipun. Namanya juga nunut, kok minta lebih, sudah untung diperbolehkan nunut. Kalau petugas setiap saat meminta kedua penumpang itu untuk turun di stasiun manapun, mau tidak mau mereka juga harus nurut sekalipun belum sampai tujuan. Atau jikalau petugas memintanya untuk pindah, ya harus nurut juga. “Hei kalian, jangan duduk disitu, pindah keatas gerbong sana!!!”

Orang yang nunut bisanya cuma pasrah dan sabar saja. Seperti saya yang sedang nunut ini. Saya yang cuma nunut ngiyup (numpang berteduh) ini, tiba-tiba diberikan makanan dan minuman oleh yang punya rumah. “Ini ada sedikit makanan dan minum. Semoga bisa mengganjal perutmu dan mengurangi hawa dingin ini” kata si pemilih rumah. Tentu saja saya sepontan senang bukan main, sudah diperbolehkan berteduh, dikasih makan pula. “Terima kasih, 3x” kataku sambil menerima sepiring nasi sop dan segelas teh hangat.

Karena saking gembiranya, saya melupakan Tuhan, sampai-sampai lupa berdoa. Dan dengan asyiknya saya menikmati makanan itu. Seperti biasanya, saya kalau makan memang lama dan ketika sedang enak-enaknya makan dibawah gemericik rintik hujan, tiba-tiba petir menyambar. Suaranya begitu menggelegar yang membuat saya pun kaget bukan main. Beruntung piring ditangan saya tidak terlepas. Tapi karena saking kagetnya, saya sempat tersedak dan batuk-batuk. Dan ketika saya hendak meminum teh hangat yang diberikan tadi, di pemilik rumah tiba-tiba muncul. “Mana piringnya, makan dari tadi lama amat” kata pemilik rumah itu sambil mengambil piring ditangan saya berikut dengan teh yang belum sempat saya minum. Dia pun pergi masuk kembali ke rumahnya.

Sayapun hanya bengong tidak bisa berkata-kata. Jangankan untuk berbicara, bernapas pun masih sulit gara-gara tersedak tadi. Masih menahan sakit di kerongkongan, pemilik rumah tadi keluar lagi. Dia menyodorkan makanan lagi, “Nih ada kerpik tempe, enak ini, buatan istri saya sendiri. Silahkan dimakan!” Eealahh, makan yang sebelumnya saja belum selesai, belum sempat minum, eh ini malah dikasih lagi, keripik tempe pula. Haduhh, rasanya kerongkongan ini masih sakit dan kering sekalipun hawanya dingin karena hujan. Nasibnya orang nunut memang cuma bisa manut. Ya Tuhan, saya juga tidak ingin selamanya nunut. Kalaupun saya harus nunut, itu hanya nunut kepada-Mu. Bantulah aku ya Tuhan.

Image was grabbed from http://www.pasarkreasi.com

2 thoughts on “Namanya juga nunut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s