Sulitkah untuk santun?

Pilpres yang kurang dua minggu lagi semakin membuat suasana panas. Setidaknya itulah yang saya rasakan ketika membaca media-media online Indonesia. Berardu argumen, komentar, dan kritik tampaknya adalah hal-hal yang lumrah sekarang ini. Dari orang yang katanya “pengamat”, politisi, dan orang awam sekalipun begitu mudah memberi komentar ini dan itu. Memang ada benarnya apa yang diungkapkan oleh Pak Budi Rahardjo, bahwa berkomentar itu lebih mudah dari pada berkarya.

Ketika kritik yang disampaikan masih bersifat sinisme, saya rasa masih wajar. Namun tidak sedikit dari kritik dan komentar itu yang sarkastis. Anehnya lagi hal itu banyak dilakukan oleh orang2 yang ber-“title” panjang.

Apakah memang sulit untuk santun?

Saya sering kali merasa miris kalau membaca berita-berita apalagi komentar pembacanya. Terkadang ada yang menggelitik tapi terkadang juga kasar dan cenderung menghujat. Kata teman-teman yang punya sosmed, di media sosial media tambah lebih parah. Semenjak era reformasi dan keterbukaan informasi, seakan terlepas dari belenggu. Berubah menjadi liar dan kejam. Seperti inikah wajah asli bangsa Indonesia?

Oleh sebab itu juga, saya lebih suka mencari berita-berita terkait olah raga ketimbang mengikuti kekinian berita pada umumnya. Sering kali saya telat untuk tahu info tertentu, hot topic atau trending topic yang ramai diperbincangkan. Seperti yang terakhir ini, soal video clip musik yang mendukung salah satu capres. Video tersebut dianggap kontroversi, bahkan oleh media luar negeri. Karena kostum yang dikenakan Ahmad Dhani mirip dengan seragam nazi. Langsung saja jadi heboh dan banyak hujatan, makian di berbagai media.

Salah atau tidak saya sendiri tidak tahu dan tidak ingin berkomentar terlalu jauh mengenai itu. Saya hanya merasa, bangsa Indonesia ini seperti kehilangan haluan. Banyak yang sudah tidak menerapkan prisip “bener”, “pener”,  dan “apik” dalam melakukan sesuatu. Jangankan menerapkan, bahkan mengerti pun mungkin tidak. Sesuatu yang benar belum tentu baik kalau salah penempatan dan momentumnya.

Baru artis saja, sudah begitu besar hujan kritiknya. Apalagi presiden yang terpilih nanti. Kasihan dengan para capres itu. Saya salut dengan Pak Susilo yang sudah dua periode menjabat presiden di Indonesia. Beliau begitu kuat dan tabah menerima berbagai macam kritikan dan bahkan hujatan. Walaupun kadangkala juga terlihat keluh kesahnya, tapi bisa bertahan itu sudah luar biasa. Obama pun kalau disuruh mimpin Indonesia sebulan saja, pasti ga bakal kuat memimpin rakyat yang “kejam” ini.

Namun saya yakin bukan seperti itu wajah bangsa Indonesia, bukan seperti apa yang banyak digambarkan oleh media. Masih banyak yang baik, santun dan indah hanya saja tidak menarik bagi sebagian besar media. Mari bergerak lebih kreatif dan produktif untuk berkarya indah dan santun.

2 thoughts on “Sulitkah untuk santun?

  1. akhirnya nulis juga tentang fenomena ini.. Bener2 mengganggu soalnya ya? akupun sekarang jadi g buka fb kalo g butuh chat sama orang tertentu yang cuma bisa lewat fb..
    Semoga bisa berhenti semuanya itu (komentar2 yang menurutku keterlaluan itu).. aamiin..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s