Perlukah Hari Santri?

Pergi mengaji. http://photodom.com

Tiga bulan lamanya saya tidak menulis di blog ini. Alasan klasik, sibuk, penyebabnya hehe. Banyak ide menulis yang akhirnya hanya menguap karena tidak pernah saya tuangkan bahkan dalam coretan buku catatan. Hari ini saya tergelitik untuk kembali menulis setelah pagi tadi secara sembrono saya buka website berita di Indonesia. Saya sudah lama tidak membaca secara serius berita-berita di media online Indonesia, selain berita tetang olah raga, itupun kadang juga cuma sekilas saja bacanya.

Lalu berita apa yang menggelitik jemari ini untuk menulis kembali? Yaitu berita terkait penetapan Hari Santri oleh pemerintah yang diputuskan akan diperingati setiap tanggal 22 Oktober. Muncul pro dan kontra terkait keputusan tersebut. Ada yang mendukung ada pula yang mencibir dengan sentimen negatif. Hmm.. lalu ada di posisi mana enaknya?

Saya memilih dan berusaha untuk berada di tengah saja. Keinginan pemerintah untuk mengakui dan menghargai para santri khususnya atas perjuangan mereka dalam merebut kemerdekaan patut didukung. Karena mungkin selama ini keberadaan mereka agak terabaikan. Hanya saja ketika bentuk penghargaan itu adalah dengan penetapan hari tertentu sebagai hari nasional, saya agak sangsikan maksud dan fungsinya.

Saya rasa pengakuan atas perjuangan mereka sudah cukup terakomodasi melalui hari pahlawan setiap 10 Nopember. Hal ini akan semakin mengukuhkan bahwa kita tak acuh dengan hanya mengakui keberadaan dan menghargai para santri setahun sekali. Lagipula saya juga yakin bahwa para santri yang turut serta dalam perjuangan, berjuang dengan ikhlas tanpa pamrih dan tidak terlalu membutuhkan pengakuan apapun. Bila kita tengong sebentar, siapa sih santri itu? Menurut KBBI,

Santri: 1 orang yg mendalami agama Islam; 2 orang yg beribadat dng sungguh-sungguh; orang yg saleh.

Masak iya orang yang beribadah sungguh-sungguh mengharapkan selain Allah. Mereka berharap kita, generasi penerus ini, lebih menghargai kemerdekaan ini dengan guyub rukun membangun bangsa lebih baik.

Jikalau pemerintah ingin memberikan penghargaan lebih bagi para santri, saya kira ada banyak cara lain yang lebih elegan dan lebih nyata manfaatnya. Misalnya dengan memberikan pengakuan atas keilmuan mereka dengan lebih layak. Para santri sepertinya masih dipandang sebelah mata ketika harus bersaing dengan lulusan sekolah formal. Seakan mereka dipandang hanya cocok sebagai guru ngaji.

Padahal kalau kita cermat dan adil dalam melihat, para santri tak kalah hebat dari mereka yang lulus dari sekolah formal. Masih ingatkah anda dengan sosok Ahmad Fuadi? Pengarang novel negeri 5 menara ini adalah jebolan salah satu pondok pesantren yang punya banyak berprestasi. Pun juga dengan seorang kawan dan dosen saya yang juga santri ini malah anti mainstream dengan ngaji ke Inggris bukan ke timur tengah.

Saya kira Indonesia membutuhkan santri dan ulama yang paham juga tekonologi mutakhir. Ulama biologi, ulama kedokteran, ulama IT, ulama nuklir, ulama sosiologi dan sebagainya. Jadi tidak hanya ulama yang pandai berdakwah agama saja, yang tentunya juga penting, tapi juga mereka yang bisa memperkenalkan kita kepada Tuhan melalui sains dan teknologi. Karena selama ini sains dan teknologi masih sering kali dianggap bukan bagian dari agama. Padahal sebagian besar ayat-ayat Allah dihamparkan ke alam semesta yang melalui sains dan teknologi lah kita bisa sedikit-sedikit menyingkap tabirnya.

Oleh karenya, jikalau pemerintah memang serius ingin mengapresiasi santri, modernisasi pondok pesantren bisa menjadi salah satu pilihan yang penting untuk dipertimbangkan. Tentunya dengan tidak menghilangkan budaya dan tradisi luhur yang ada di dalamnya. Membangun dan mengembangkan koneksi antara pesantren dengan lembaga riset dan industri. Sehingga bisa lahir riset yang mumpuni tidak hanya secara akademis dan praktis, tetapi juga sarat dengan muatan ilmu agama. Selain itu, bisa juga dengan memberikan mereka wadah, kepercayaan dan kesempatan lebih besar untuk ikut andil dalam pembangunan dan kemajuan bangsa.

Sekian, sekelumit uneg-uneg dan pendapat saya pribadi. Mau anda mendukung ataupun menolak itu hak masing-masing.

Menghargai perjuangan para pahlawan, entah santri atau bukan, tidak cukup hanya dengan peringatan hari nasional setahun sekali dan kemudian dilupakan disisa 364 hari selanjutnya. Sudah terlalu lama kita sia-siakan jerih payah perjuangan mereka dengan berebut keserakahan.

Andai Indonesia tidak merdeka …. ???

3 thoughts on “Perlukah Hari Santri?

  1. Kemerdekaan dan perjuangan negara kita jg berawak dr pr kyai dan santri loh..kyk imam bonjol,antasari,hasanudid,pendiri2 NU dan Muhammadiyah dlk..jd perlu hari santri kak🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s