Dibalik pencarian

Thesis
oh thesis…

Empat bulan lamanya, mungkin lebih, saya bergelut dengan makalah ilmiah (paper, journal, thesis). Terkadang jemari ini begitu lincah menekan keyboard bahkan kadang tanpa memandangnya. Ide untuk menulis bisa muncul dimana-mana, bahkan ketika sedang semedi di kamar mandi. Sampai kebawa waktu ibadah atau tiba-tiba muncul di alam mimpi.

Ketika buntu, inspirasi pun bisa dicari melalui mesin pencari. Baca lagi referensi (paper, buku, dsb). Entah sejak kapan saya sering bawa paper di tas, meskipun jarang saya baca dan hanya menambah beban saja. Tapi saya sering memohon, semoga ketika saya ambil dan membacanya diberikan petunjuk dan ilmu baru. 

Saya bukanlah orang yang rajin, sekalipun mencatat atau merangkum apa yang sedang saya baca atau pelajari. Dulu sewaktu SMA sering kali pinjem buku temen buat nyalin catetannya. Tentu saja saya pinjem temen-temen cewek, karena buku dan tulisannya rapi :d.

Padahal tulisan tangan saya sebenarnya bagus lho.. (narsis mode). Namun itu kalau sedang kepengen. Lebih banyak tulisan yang ala kadarnya, sekedar menarik pena. Bisa dibayangkan bentuknya. Saya pun kadang susah membacanya, haha.

Sehingga sering kesulitan sendiri ketika harus nulis (salah dewe..).

Awal mula mengerjakan thesis itu pun tidak lah gampang. Terlebih topik yang saya pilih tidak banyak digali di jurusan tempat saya belajar. Tidak ada yang bisa diajak diskusi atau bertanya.

Fuzzy” yang dalam bahasa Indonesia bisa diartikan kabur atau samar. Itu juga yang saya rasakan. Seakan antara ada dan tiada (opo iki..). Ketika berharap intuisi atau arahan dari sang pembimbing, malah diberi mantra “Bagaimanapun, saya yakin kamu bisa.” Diulang-ulang dengan berbagai gubahan saja.

Kadang saya linglung (alhamdulillah tidak sampai gila kok :d), ngobrol-ngobrol sendiri, bergumam dll. Ide, petunjuk apa pun itu sebutannya, memang ghaib. Saat dicari-cari tak kunjung muncul. Saat mulai jenuh dia tiba-tiba hadir.

Ini sudah jadi pilihan, saya akan berjuang dan bertekad lulus tepat waktu. Kalau molor bisa tambah pusing karena harus membiayai sendiri hidup saya dan istri. Tidak ada perpanjangan yang ditawarkan dari beasiswa yang menyokong studi ini (padahal dulu dijanjikan ada.. tapi ga ngarep juga sih :d).

Di balik apa yang sedang saya pelajari itu, membuat hati dan pikiran ini merenung. Seakan saya disadarkan bahwa diri ini pada dasarnya fuzzy, samar, tidak nyata, seakan-akan ada. Yang jelas dan Maha Jelas adalah Allah semata karenanya Dia disifati wujud.

Alhamdulillah.. terima kasih Allah untuk semuanya bahkan untuk yang tidak kuminta sama sekali. Terima kasih untuk istri dan keluargaku atas dukungan dan doanya. Semoga saya bisa memberikan yang terbaik untuk kalian.

Akhir bulan ini saya akan memaparkan apa yang sudah saya kerjakan. Semoga semuanya berjalan lancar meskipun tidak didampingi sang pembimbing.

Ya Allah, kiranya pantas untukku, titipkanlah sedikit ilmu-Mu yang akan membawa manfaat untukku dan orang lain. Ilmu yang bisa menerangi dan membimbing langkahku kedepan nanti.

6 thoughts on “Dibalik pencarian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s