Sok tahu!

Kolom komentar mungkin menjadi awal mula pembentuk generasi komentator. Dulu setahu saya, komentator biasanya disematkan pada pembicara olah raga. Biasanya mereka akrab disapa “Bung …”.

Meskipun terkadang komentar mereka tendensius, aneh. Tapi kita yang nonton paling cuma bisa ngedumel sendiri. haha..

Lalu dengan hadirnya blog, media sosial, dan khususnya kolom komentar, tiba-tiba jadi beramai-ramai curhat, mengeluh, dan berkomentar. (Ya kayak saya sekarang ini.. haha..)

Ada sisi positif tentunya. Kita bisa lebih mudah menyampaikan keluhan terkait layanan publik atau kebijakan-kebijakan pemerintah. Daripada berkeluh kesah ke DPR, paling ya dibiarin menguap begitu saja. Melalui media online, keluhan dapat dijangkau oleh khalayak luas dan disebarluaskan secara masif. Sehingga permasalahan bisa segera ditindak lanjuti oleh yang berwenang.

Namun, ada salah satu sisi negatifnya juga. Secara perlahan, kita berubah menjadi “sok” (bukan “bung” lagi sebutannya). Sok tahu, sok bijak.

Begitu gampangnya melayangkan komentar, bahkan hujatan. Berbekal pengetahuan dari mesin pencari, pada berlomba menyajikan data dan fakta pendukung komentarnya.

Televisi dan media jurnalistik pun lebih sering menayangkan opini daripada fakta yang ada. Narasumber ala kadarnya dihadirkan untuk berkometar, terkadang malah digiring untuk berdebat dengan narasumber lainnya.

Lalu para reporter pun berburu komentator jadi-jadian di luar sana. Menanyai dan minta pendapat pada siapa saja yang ditemui. Opininya pun akhirnya ya sekeluarnya saja, terkadang asal-asalan.

Di era pers bebas, seakan-akan semua orang wajib berkomentar, wajib urun opini.

Ketika ada suatu masalah atau kejadian tertentu, bermunculan “pakar-pakar” baru, pengamat, pemerhati, dan banyak lagi titel lain yang disematkan pada komentator ini (sudah bukan “bung” lagi). Dengan berbagai pengetahuannya, mereka berlomba memberikan pendapat.

Saya sendiri masih tidak paham dengan profesi pengamat atau pemerhati. haha… Kalau saya mengamati komputer hampir 5-6 jam sehari, bisakah disebut sebagi pengamat atau pemerhati komputer? (Ciee… perhatiannya buat komputer…). Atau biar lebih keren pakar telematika. haha

Luasnya pengetahuan tak menjamin dalamnya ilmu.

Ada juga gejala kecewa akut. Ditandai dengan maraknya surat terbuka yang sebagian besar saya tahunya berisi kekecewaan atau kekhawatiran. Ini muncul sebagai reaksi atas kebijakan publik atau keputusan pemerintah dan sikap pejabat yang dianggap tidak sesuai dengan angan-angan atau yang dia inginkan.

Berbagai argumen disampaikan, kekecewaan atas harapannya diumbar tumpah ruah. Tak sedikit pula yang isinya menyindir dan ironis. Orang jadi sok bijak, seakan tahu yang terbaik untuk masa depan.

Kekecewaan dan kemarahan seringkali membuat kita tidak bisa bersikap adil dan objektif. Sikap dan pola pikir kritis tetaplah penting sebagai katalis. Namun saya rasa perlu juga diimbangi dengan kepekaan, keluasan hati dan pikiran.

Sebagian dari orang, bahkan mungkin saya pribadi nih, sering kali mempertontonkan kebodohan dengan menjadi sok tahu, sok paham, sok peduli, dll. Kita tidak pernah tahu yang terbaik bahkan untuk diri kita sendiri. Apa yang dikira baik, eh ternyata tidak baik menurut Tuhan.

Jikalau hanya Tuhan yang dijadikan sandaran atas harapan dan doa kita, insya Allah kita tidak akan diliputi kegelisahaan, kekhawatiran dan kekecewaan, sekalipun doa yang kita panjatkan menurut kita tidak terkabul.

Hmm… saya jadi sok tahu dan sok bijak dengan nulis ini. Semoga bisa jadi bahan evaluasi pribadi.

4 thoughts on “Sok tahu!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s