Segulung Kimbap (1)

Alarm berdering keras memekikkan gendang telingaku. Di luar masih gelap. Matahari masih belum merangkak meskipun sudah jam 6. Sialan, handuk masih dijemur di luar. Harus buru-buru kuambil agar tidak mengantri lama. Kusahut juga perkakas mandi.

“Ahh..” kubanting tempat sabun yang habis. Gerutu memang nampak di keseharianku. Sudah hampir tiga bulan ini aku paksa diri ini meninggalkan kenyamanan dan kemewahan yang selama ini memanjakan sekaligus melenakan.

Untuk alasan “prinsip” aku tinggalkan rumahku, maksudku rumah orang tuaku. Bukan rumah juga sih, karena tidak ada pekarangan, apartemen lebih tepatnya. Tinggal di ruangan sempit berukuran kira-kira 2×3 meter. Ruangan yang tak lebih besar dari kamar mandiku dulu. Untung saja tak kubawa serta semua barang-barangku. Bisa tidur di luar aku.

Kadang kutertawakan diri sendiri. Sejak kapan aku punya “prinsip” itu. Yang entah kenapa waktu itu begitu aku perjuangkan sampai akhirnya sengsara sendiri. Dasar dungu!

Tapi aku cukup punya rasa malu dan harga diri untuk kembali.

Dandan rapi dengan kemeja warna biru cerah bermotif. Celana kain gelap lengkap dengan sabuk kulit mahal yang turut kubawa dulu. Rambut kusisir klimis. Kusemprotkan parfum murahan yang baunya teramat menusuk hidung. Tak ada pilihan lain. Daripada menanggung malu bau kecut keringatku.

Kuselempangkan tas berwarna coklat tua yang berisi charger hp, earphone, buku catatan kecil dan pulpen. Sayang baterai cadangan dan power bank lupa ku bawa sewaktu kalap minggat dulu. Jadi harus hemat baterai selama perjalanan.

Langkah kaki kupercepat menyusuri jalanan yang tidak terlalu lebar. Banyak mobil terparkir di sepanjang jalan. Sehingga aku harus minggir ketika ada mobil lain yang berjalan. Masih pagi memang. Tapi aku mau dapat tempat duduk di bus nanti.

Ya bus! Berdesakan dengan banyak orang.

Untunglah halte masih terlihat sepi. Segera kupercepat lagi langkahku setelah menyebrang jalan. Sepuluh menit lagi busnya akan datang.

Seorang perempuan berjalan agak tergopoh-gopoh. Dia mengenakan blouse longgar berwarna cream bergaris hitam di kerah dan lengannya dengan rok pendek hitam. Tiba-tiba dia sudah berdiri dibelakangku.

“Selamat datang..” sapa ramah sopir bus dengan senyuman pada setiap penumpang yang naik. Kulihat sekilas, sopirnya masih nampak muda. Namun tak lama-lama kuperhatikan, segera kuarahkan mata ini mencari tempat duduk kosong.

Perempuan tadi duduk di seberang kursiku. Bisa kuterka apa yang akan dilakukannya sebentar lagi. Bersolek lagi. Terkikik meringis aku melihatnya. Daripada pikiranku melayang, kuambil saja hp dan asyik memainkannya. Meskipun yang kulakukan lebih sering buka tutup daftar apps.

Perjalanan masih jauh. Kupenjamkan saja mata yang mulai pedas ini. Kembali terbayang “prinsip” itu yang selalu menghantui. Antara realita dan mimpi. Pikiranku semakin berkecamuk, bercampur aduk. “Sudahlah…” bisikan itu pelan kudengar di relung jiwa ini. “Ahh.. diam kau..!” teriakku. Tak kusadari semua mata tertuju kepadaku. Aku diam tak bergerak. Bingung. Pandangan kuarahkan keluar jendela seakan mau loncat saja dari bus ini.

Buru-buru kutinggalkan bus sesampainya di halte. Berhambur keluar bersamaan dengan kurumunan manusia yang keluar dari tanah.

Perutku mulai meronta. Kucari warung kimbap terdekat sebelum menuju kantor. Tak biasanya aku makan kimbap untuk sarapan. Biasanya mama menyiapkan sandwich, roti oles salai, atau minimal sereal.

Tapi demi menyumpal perut ini, tak apalah sekedar kimbap. Warung kimbap ini cukup nyaman dan enak, sudah jadi langgananku selama tiga bulan terakhir ini. Warungnya cukup dekat, sekitar seratusan meter dari kantor.

“Selamat datang…” suara dari dalam warung menyambutku. Suara yang tidak biasanya aku dengar. Suara yang renyah dan ramah. Ternyata seorang perempuan muda. Senyumnya manis dan riasan wajah yang biasa. Nampak polos tak seperti perempuan kebanyakan yang mempertebal dempulan wajahnya.

Kulitnya nampak putih cerah. Ahh.. bukannya orang sini kulitnya sebagian besar putih. Pikiranku semakin ngawur.

“Pesan apa?” sambil menggerakkan tangannya di depan mukaku. Akupun tersadar dari lamunan. “Hahh… Iya.. anu.. itu hmm… ” sambil jariku menunjuk asal ke daftar menu. “Yang mana?” tanyanya lagi. “Hmm.. anu kimbap tiga!”

Eh.. ngapain juga aku pesan sebanyak itu. Gila pikiran ini. Aku duduk dan mengambil minum untuk menenangkan diri. Tapi mata ini masih menatapnya.

Rambutnya hitam kecoklatan panjang sebahu. Mengenakan baju longgar merah kotak-kotak dengan celana jeans longgar juga. Kakinya mungil dibalut dengan sepatu flat warna putih. Dia tampak terampil menata satu persatu isian kimbap itu lalu menggulungnya. Meskipun tidak secepat dan setangkas ajuma yang biasanya.

Dimasukkannya kimbap itu kedalam tas plastik. “Ini sudah selesai”. Sengaja kusodorkan uang lima puluh ribu.

Lalu akupun ngelonyor pergi dengan pikiran yang gundah. Serasa jiwa ini masih tertinggal di warung.

Bersambung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s