Segulung Kimbap (2)

Kunikmati potongan nasi gulung di mejaku. Masih sepi. Sehingga aku bisa menikmati sarapanku dengan leluasa. Entah kenapa rasanya begitu lezat kali ini. Atau cuma perasaanku saja? Mungkin juga karena rasa lapar yang melilit ini.

Aku hanyalah pegawai rendahan disini. Lebih tepatnya jongos, tapi tanpa serbet tersampir di pundak. Darimana pula kudapati istilah-istilah itu. Hmm.. aku ingat, salah satu pilem dari Indonesia menampilkan adegan pembantu dan majikan.

Kerjaanku melayani atasan dan para senior dengan patuh dan menampakkan kerendahan hati di hadapan mereka. Mulai dari fotocopy berkas-berkas, menjawab telepon, menyiapkan minuman dan cemilan, mengganti galon air, dll. Kenapa perusahaan segede ini ga mampu beli dispenser, menyusahkan saja.

Ya begitulah sekelumit kesibukanku. Biar kelihatan wah, nama jabatan yang disematkan padaku adalah General Assistant alias “babu umum”. Bayaranpun pas-pasan, bahkan tak sampai setengah uang jajanku dulu. Kalau saja aku mau menyodorkan ijasah yang kudapat dari Amerika dulu…

Potongan kimbap terakhir telah habis kulahap. Namun masih tersisa dua gulung lagi kubiarkan untuk makan siang saja. Bersama itu, jam sudah menunjukkan pukul 8.45. Hampir semua pegawai sudah datang. Aku harus segera bergegas keluar dari ruang rapat ini dan menyapa atasanku.

“Selamat pagi Boss… Selamat pagi Pak.. Selamat pagi senior… ….. … ”

Wajah nelangsa Mama tiba-tiba terlintas. Wajah yang ayu tak terlihat luntur ditelan usia bukan hanya berkat perawatan mewah, tapi juga gaya hidup sehatnya. Jerit tangisnya dengan badan terhuyung-huyung berusaha menahanku untuk tidak pergi.

Pertengkaran dengan Papa sudah sering kualami. Dia selalu saja membandingkan dengan masa lalunya. Kata-katanya dalam pertengkaran hebat itu, membuat kepalaku pecah, hati meledak panas sekali. Aku pun hijrah dengan pipi memerah.

Pikiran dan hati menjadi picik ketika diliputi amarah.

“Ayo makan bareng… ” ajak seniorku. Ternyata waktu berlalu begitu cepat.

“Terima kasih Hyung (baca Mas)… Tapi maaf, hari ini saya bawa bekal…” sambil mengingat kutaruh mana sisa kimbap tadi.

Seniorku hanya nyengir dan menyingkir. Aku tak bisa membalas cengirannya sebelum dia lenyap.

Kubuka lagi gulungan kimbap karya gadis polos itu. Sudah tak sehangat pagi. Tapi senyum hangat dan wajah ramahnya membuatku enak mengecap potong demi potong kimbap.

Bersambung.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s