Segulung Kimbap (3)

Ingin rasanya segera enyah dari kejenuhan ini. Namun, sebelum mereka para atasan itu beranjak tak patut bagiku melangkah lebih dulu.

Kulihat jam sudah hampir menuju pukul 7 malam. Tapi kenapa tak juga nampak lelah di raut wajah mereka. Hidup adalah berkerja. Bekerja dan hiduplah engkau. Seakan tak punya hidup selain bekerja.

Ditengah lamunku, tiba-tiba pundakku ditepuk dari belakang.

“Kau tidak ada janji kan? Ayo kita karaokean dan minum habis ini?”, kata kepala departemen yang sudah banyak beruban itu.

Aku pun bingung, karena tak enak menolak ajakannya. Tapi kupingku bakalan jengah jikalau mendengarnya bernyanyi dengan suara kacau yang menyedihkan itu. Apalagi kalau harus mengantarnya pulang karena mabuk berat.

“Maaf bos, kali saya tidak bisa ikut sepertinya. Mungkin lain kali…”

Dia nyegir dan menyindir, “Tumben sekali, apa kau sudah punya pacar? Sejak kapan bertingkah seperti ini?”

Sialan. Darahku mendidih rasanya. Kalau saja kau bukan bos ku….

Aku hanya bisa terdiam tak mampu menimpalinya.

“Pak Kepala, mari kita minum! Saya yang traktir.” kata seorang kepala departemen lain yang baru saja promosi. Dia tampak begitu sumringah datang dan menyapa bos saya. Akhirnya ada penyelamat datang.

“Yakin kau ta ikut?”, tanyanya sekali lagi. “Tidak bos, maaf. Selamat bersenang-senang!”

Segera kurapikan meja dan kukemasi barang-barangku. Pikiran yang sudah kacau ini ingin sekali menemukan kesejukan yang mendamaikan.

Entah kenapa yang terbayang adalah sosok penggulung kimbab pagi tadi. Senyum ramah dan wajah polos yang ayu itu seakan bisa menjadi obat mujarab bagi kekacauan pikiran dan jiwa ini.

Kosong dan hampa selama hidup ini memang sering menggelanyuti pikiran dan membuat jiwa ini terhuyung tak karuan. Suljip (술집) jadi tempat persinggahan terbaik untuk melupakan semua masalah.

Namun, lama-lama kurasakan itu tak benar-benar menyelesaikan masalah. Cuma membuat diri ini lupa sejenak. Capek lari terus-menerus, bahkan semakin kering jiwa ini kurasa.

Pintu lift terbuka dan menyadarkan lamunanku lagi. Segera kepercepat langkah kaki, berharap dia masih disana.

Lampu merah menghalangiku untuk segera sampai ke warung kimbap. Tapi dari seberang sini aku bisa melihatnya. Mataku menerawang dari kejauhan, melihat ke tiap sudutnya mencari gadis itu.

Yang terlihat hanya beberapa emak-emak (ajuma) seperti menghardik. Tak seberapa jelas. Pikiranku berandai-andai dan menerka, siapa gerangan orang malang yang dihardik itu.

Lama sekali lampu merah ini menahanku.

Pranggg… Terdengar suara benda terbanting dan teriakan bersumber dari warung itu. Seorang gadis nampak berlari keluar, tapi pandanganku terhalang oleh laju bus kota. Akupun tak bisa memastikan siapa gadis tadi.

Lampu hijau akhirnya menyala. Langsung saja kulari keseberang jalan. Yang kudapati hanyalah beberapa potong kimbab tercecer. Kupunguti satu-satu. Hatipun berkecamuk dengan berbagai prasangka.

Selesai.

2 thoughts on “Segulung Kimbap (3)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s