Titik cahaya

Sabtu siang selepas sholat dzuhur saya mengantar istri ke rumah sakit untuk pertama kalinya memeriksakan kandungannya. Kami pun berjalan menuju halte taxi menyusuri jalan berpagar gedung. Perjalanan menuju rumah sakit sekitar 30 menit. Bermodal nekat tanpa reservasi lebih dulu, kamipun langsung daftar ke resepsionis sesampainya disana.

Rumah sakitnya tidak terlalu besar. Jangan banyangkan bangunan yang serba putih dengan lorong-lorong sepi sewaktu malam menjelang :d. Hanya satu bangunan saja berlantai delapan kalau tidak salah ingat.  Dengan design sederhana tapi cukup cozy.

Proses administrasi sangat cepat, hanya tinggal menyerahkan kartu resident, menyebutkan keperluan, dan milih dokter. Tidak sampai lima menit mungkin, lalu kita naik ke lantai dua tempat pemeriksaan. Menunggu sebentar lalu istri saya dipanggil untuk diberikan sebuah buku check up (fotonya menyusul) dan diminta untuk memeriksa berat badan dan tekanan darah secara mandiri di alat-alat yang sudah disediakan. Hasilnya kemudian diserahkan ke bagian administrasi yang lain (letaknya sebelahan) sambil konsultasi sejenak. Baru setalah itu antri untuk diperiksa oleh dokter.

Daftar antrian untuk masing-masing dokter sudah tertera di salah satu monitor yang memudahkan kita untuk memperkirakan kapan akan dipanggil. Alhamdulillah saat itu antriannya tidak terlalu banyak, hanya empat orang kalau tidak salah. Sambil menanti itu kami ngobrol sembari melihat tingkah polah anak-anak kecil yang imut-imut, lucu, dan menggemaskan. Membayangkan bahwa kita insya Allah juga akan menimang seorang bayi.

Rasa haru dan syukur kembali menyeruak hati. Menghela nafas panjang sembari kupegang erat tangan istri.

Giliran kami tiba, dan masuklah kami ke ruang dokter. Dia masih terlihat muda dan ramah. Setelah sedikit basa-basi, istri diminta masuk ke ruang perawatan. Dan ternyata langsung di USG biasa oleh dokternya. Ada teman yang bilang kalau masih awal usia kehamilannya, biasanya akan diperiksa USG transvaginal lebih dulu.

Sayapun bisa melihat citra USG di monitor yang tertempel di dinding dekat tempat duduk. Tapi saya cuma bisa melongo saja karena tak paham itu gambar apa, haha.

Setelah selesai pemeriksaan USG, dokter pun menjelaskan hasilnya. Ditunjukkanlah kepada kami bahwa titik kecil yang menempel itulah calon janin.

Subhanallah, titik cahaya yang begitu indah titipan Illahi.

Kami berdua tersenyum memandangi titik itu. Saya berusaha kuat untuk tidak meneteskan air mata dengan mengalihkan pandangan ke dokter. Lalu kami dijelaskan apa saja yang perlu dilakukan pemeriksaan dan kapan harus datang lagi. Dokter juga mengingatkan kami untuk segera mengurus asuransi agar bisa meringankan beban biaya.

Sebelum pulang kami diberi “hadiah” berupa foto USG tadi. Kami bergantian mengelus-elusnya.

Titik itu..
Jelas kulihat cahaya terpancar

Cahaya kasih
Cahaya cinta
Cahaya semangat

Pancarannya begitu terang
Tak menyilaukan …
menyejukkan

Wahai Cahaya di atas Cahaya Rabb Semesta
Bimbinglah kami, bantu kami untuk menjaga titipan cahaya-Mu ini.

Bersambung.

#sebelumnya Tanda Merah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s