Tut… tut…

Tut… tut… siapa hendak turut?

Sudah lama sebenarnya ingin mencoba moda transportasi kereta. Akhirnya baru kesampaian setelah berkesempatan belajar di negeri orang. Kereta yang pertama kali saya naiki adalah sejenis subway atau kereta listrik. Waktu itu saya diajak teman-teman sekampus untuk jalan-jalan menikmati hiruk-pikuk kota Seoul di malam hari. Kami naik bareng dari stasiun terdekat, Sungkyungkwan Univ Station, menuju Seoul. Tapi saya agak lupa turun di stasiun mana, sepertinya di stasiun Hongdae.

Istilah stasiun dalam bahasa Korea biasa disebut dengan 역 (baca: yog). Selain itu juga ada kebiasaan menyingkat istilah seperti penyebutan nama stasiun 성대역 (baca: Seongdae yog) yang merupakan kependekan dari nama stasiun dekat kampus saya dulu.

Sistem tiket adalah dengan menggunakan tiket elektronik, yaitu t-money atau dengan tiket sekali jalan yang bisa dibeli melalui mesin-mesin tiket di stasiun. Untuk t-money sendiri kartunya bisa dibeli convenience store seharga sekitar 25,000 kalau dirupiahkan. Itu tidak termasuk saldo kartu. Pengisian saldo bisa dilakukan di stasiun atau convenience store. 

Beragam bentuk t-money (http://hotel.jalan2.com)

Enaknya adalah kartu ini bisa digunakan untuk naik transportasi lain, seperti bis dan taksi. Dan bisa dipakai di seluruh penjuru Korea. Jadi tidak perlu khawatir harus beli kartu lagi ketika bepergian keluar kota. Satu hal lagi, penggunaan kartu ini juga bisa menghemat biaya transportasi karena lebih murah dibandingkan dengan pembayaran tunai. Tarif transportasi dibagi jadi tiga, yaitu dewasa, remaja (baca: anak sekolah), dan anak-anak.

Ada juga sejenis kartu langganan subway. Kalau sering bepergian dengan subway dari Suwon ke Soul misalnya, kartu langganan ini bisa sangat berguna karena tarifnya bisa jauh lebih murah. Hanya saja, jika bepergian melebihi rute rutin, akan dikenakan potongan. Selain itu, kartu tersebut hanya berlaku lokal di daerah tertentu saja. Misalnya, kartu keluaran Seoul tidak bisa digunakan di daerah lain.

Semenjak itu saya jadi sering bepergian menggunakan kereta. Selain tepat waktu dan bebas macet, juga sangat nyaman. Meskipun pada saat jam sibuk bakalan berjubel tak karuan.

Ada lima kota metropolitan yang mempunyai sistem subway, diantaranya adalah Seoul, Daejon, Daegu, Gwangju, dan Busan. Satu-satunya subway yang belum pernah saya coba adalah di daerah Gwangju. Meskipun sudah beberapa kali berencana mampir berkunjung kembali, tapi tak pernah terwujud.

Kenangan itu…

Pertama kali bepergian jauh adalah ke Gumi. Saat itu rasa rindu yang akhirnya membawa diri ini ke kota kecil di tengah Korea. Musim semi barulah dimulai, rasanya masih dingin saja. 

Dengan bekal tekad dan nekat, saya beranikan diri untuk beranjak dari asrama pergi ke stasiun Suwon untuk membeli selembar tiket. Tampak ramai sekali orang berlalu lalang. Saya baru menyadari, ternyata stasiun itu satu bangunan dengan mall. Antrian panjang karena mungkin banyak yang beli tiket untuk akhir pekan.

Beruntung petugas bisa melayani dalam bahasa inggris. Sabtu pun datang, pagi-pagi langsung bergegas menuju stasiun. Ketika kereta datang, saya agak bingung apakah benar itu kereta yang akan saya naiki. Karena selisih waktu dengan jadwal yang ada di tiket tak sampai 10 menit lebih awal.

Saya beranikan diri bertanya kepada petugas, ternyata bukan kereta saya. haha. Jadwal keberangkatan antar kereta bisa begitu rapat. Petugas pun mengarahkan saya menuju tempat tunggu sesuai dengan nomor gerbong yang akan saya naiki. Saya pun mulai memahami banyaknya petunjuk arah yang ada.

Menyusuri Korea dengan kereta sangat menyenangkan, mungkin juga karena ada seseorang yang akan saya temui waktu itu. Menyisir persawahan kering karena masih awal musim semi. Membelah perbukitan melalui lorong-lorong gelap. Perjalanan selama tiga jam menuju Gumi tak terasa.

Mata pun rasanya tak pernah terpejam. Takut terlewat stasiun tujuan, haha. Meskipun pengumuman di tiap stasiun menggunakan dua bahasa, tapi tetap saja diri ini harus awas. Sesampainya di stasiun tujuan, saya turun dan mengikuti arus kemana manusia pergi. Sama dengan stasiun Suwon, di Gumi pun peron berada di lantai bawah sedangkan tempat tunggu berada di atas.

Setelah melewati kerumunan orang, nampak seseorang yang kukenal telah menunggu disana. Dia pun menyambut dengan senyum. Serasa hilang penat selama perjalanan.

Satu persatu kenangan dengannya dan kereta mulai tergoreskan. Mungkin di lain waktu akan saya ceritakan kembali.

One thought on “Tut… tut…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s