Segulung Kimbap (1)

Alarm berdering keras memekikkan gendang telingaku. Di luar masih gelap. Matahari masih belum merangkak meskipun sudah jam 6. Sialan, handuk masih dijemur di luar. Harus buru-buru kuambil agar tidak mengantri lama. Kusahut juga perkakas mandi. “Ahh..” kubanting tempat sabun yang habis. Gerutu memang nampak di keseharianku. Sudah hampir tiga bulan ini aku paksa diri ini… Continue reading Segulung Kimbap (1)